Rabu, 02 Mei 2012

Menerima Islam harus Kaffah

Menerima syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) merupakan suatu keniscayaan, dimana kebanyakan manusia mengingkarinya. Menerima ajaran Islam sebagian-sebagian, terlebih dipilih-pilih hanya apabila menguntungkan bagi dirinya adalah fenomena yang terjadi saat ini. Ketika Islam mewajibkan mencari nafkah, pada umumnya manusia menerima dengan antusias, karena di dalamnya terkait keuntungan, penghasilan, kesenangan, kenikmatan, dll. Ketika Islam mewajibkan kepada para suami untuk menafkahi keluarga, juga masih diterima dan dilakukan pada umumnya. Akan tetapi ketika Islam mewajibkan jihad fi sabilillah, misalnya menuntut ilmu (ilmu syar'i) yakni dienul Islam, maka mulailah muncul berbagai alasan untuk menghindarinya, sibuklah, capelah, tidak punya waktulah, dan alasan-alasan lain. Apalagi ketika Islam mewajibkan kepada setiap muslimim untuk berjihad menegakkan syariat Islam, makin tambah banyak alasan-alasan yang intinya menghindar. Kenapa hanya sedikit orang yang tergerak untuk berjihad, karena hal itu bersebrangan dengan hawa nafsu yang cenderung kepada dunia ini. Muncul kekhawatiran dan ketakutan ketika akan menegakkan jihad yang sesungguhnya yakni menegakkan syariat Islam, hanya tunduk dan taat pada aturan Allah swt. Kekhawatiran dan ketakutan yang muncul dari dalam diri, kemudian dihasut oleh bujukan syetan yang menyeru "udahlah ga usah macem-macem, tuh urusi aja keluarga, supaya makan enak, tidur nyenyak, bisa rekreasi, hiburan terus-menerus, buat apa berjihad, kapan kamu menikmati hidup ini.....dst. bisikan syetan yang seolah-olah dianggap kata hatinnya". Belum lagi dari kebencian kaum kafir (yahudi dan nasrani) yang sampai kapanpun mereka tidak akan rela apabila Islam tegak berdiri, Islam jaya. Oleh karena itu saudaraku hidup ini hanyalah persinggahan yang sangat singkat, ibarat berteduh di bawah pohon kemudian melanjutkan lagi perjalanan. Lebih baik dicaci kebanyakan manusia, asalkan Allah swt. ridho kepada kita, sehingga kita mendapat ampunan dan rahmat-Nya, aamiin.

Tidak ada komentar: